This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 13 Desember 2017

Satu Sore di Landmark Ternate

Kota ini memang terbuat dari rindu. Sejak berpisah beberapa lama. Kita (saya dan dua kawan, DM, DH) bertemu di landmark kota beratap senja. Titik nol Kota Ternate. Kita berbagi cerita, berbagi kisah, sambil bersenda gurau.

Harusnya memang kita saling merendahkan hati. Tentang rindu yang datangnya selalu tanpa permisi. Adakah alasan logis untuk merindu? Atau jangan-jangan ini bagian rekayasa rasa yang tidak mau terus berjauhan?

Senja selalu indah. Langit merah saga selalu menyejukkan setiap pasang mata yang mulai letih selepas bekerja seharian.
Lalu rindu pun terbayar kala mentari senja menutup mata di belahan barat bumi-Nya.

Tak terasa langit pun meredup. Lantunan adzan Magrib menggema di berbagai penjuru kota. Senja dan rindu kembali tersimpan pada tempatnya masing-masing. Dan aku – mendamaikan kenyataan yang ada.

*) Landmark - Ternate,
Selasa 12 Desember 2017

_________________________
Mereka uji coba kamera handphone dan skill: Dahlan Malagapi, Mahmud Hi Ibrahim dan Darmin Hi Hasim
Phonegrafer: DM, MI, DH.







Senin, 28 Agustus 2017

HARUS FOKUS

Cerita ringan pagi ini...

"HARUS FOKUS"

Seperti biasa.. setiap pagi istri dan anak-anak tercinta sibuk. Anak yang pertama dan kedua; Alya dan Ayla (tata) selekas-lekasnya mandi untuk persiapan ke sekolah. Sementara istri sibuk menyiapkan sarapan pagi buat mereka.

Singkatnya... setelah semua beres, tugas istri mengantar Alya dan Tata ke sekolah. Alya harus lebih awal karena menempuh perjalanan jauh di SD Tomalou dengan menumpangi angkutan umum. Sedangkan sekolahnya Tata, SD Muhammadiyah, tak jauh berjarak kurang 200 meter dari rumah.

Nah, tinggallah si bungsu Abu Dzar Al-Ghiffari yang masih TK. Saya diberi tanggungjawab untuk memandikan sekaligus membereskan anak Lelaki yang hobi 'berkicau' ini. Hehe..
Saat mandi, gosok gigi, menyabuni, Aby sapaan akrabnya, tak pernah berhenti "bersiul" bak nyanyian burung di pagi hari. Mulutnya tak berhenti bergumam.

Sampailah pada satu momen, di mana pada saat saya memakai pakaian seragam TK Bhayangkara-nya. Memang, semua perlengkapan sekolah anak-anak, sudah disiapkan oleh mereka sejak malam sebelum tidur. Mulai dari pakaian/seragam, tas, buku, kaos kaki hingga sepatu. Ibu mereka kerap menerapkan disiplin ketat. Mungkin turunan dari bapaknya (alm.) purnawirawan Brimob.

"Ayah ini hari apa?" tanya Aby tiba-tiba. "Rabu, nak," jawab saya sekenanya. Padahal salah, mestinya hari ini Selasa. Saya khilaf.
"Ayah sayang... kalau Rabu, berarti Aby harus pakai seragam politi (maksudnya; polisi), bukan seragam ini," protes Aby. Saya jadi bengong, bingung sendiri. Makhlum, meski baru masuk TK, Aby sudah menguasai 6 pasang seragam yang diberikan sekolahnya yang dipakai sesuai hari.
"Oh iya salah... ini hari Selasa," saya mencoba mengklarifikasi setelah sadar pulang, ingatan pulih. Hehe..
Tahulah sendiri Aby. Dia masih tak terima. "Berarti ayah boon (maksudnya; Bohong)," protes anak ini dengan lugas. Saya terperanjat. Terpojok.
Akhirnya... "Maafkan ayah, Aby. Ayah tak bermaksud bohong. Ayah hanya lupa, nak," saya berusaha meluruskan dengan merendah. "Ayah harus fokus," tandas Aby. Nah, kalimat inilah yang membuat saya kewalahan. Saya seperti terpojok, ibarat tinju, saya mendapat pukulan jep yang sangat telak. Hehe..
Tanpa ba bi bu lagi...dalam pikiran saya cepat-cepat membereskan anak ini.

Demikian kisah ringan pagi ini. Saya ambil hikmah saja. Seiring dengan pertumbuhan, Anak itu mulai kritis (yang positif).
Apa hikmah lain yang bisa anda petik?


Mari Berbagi Cerita.
--------------------------------
Doa:
Semoga Allah merahmati, mencintai, mengasihani, menyayangi, merahimi; melimpahi, memberkati, menganugerahi, merestui dan memberkahimu nak, agar menjadi anak yang bertaqwa. Aamiin YRA

*)Tidore, Selasa 29 Agustus 2017


        Foto: Bersama Abu Dzar Al-Ghiffari.

Rabu, 31 Mei 2017

Warkatul Ikhlas "NUKU World Festival" Garda Nuku

Suba se Tabea..

Moloku Kie Raha atau Maluku Utara jelas bukan sekadar lembaran buku sejarah. Penting bagi kita -- generasi muda -- dewasa ini untuk memposisikan diri dan bertanya apa yang harus kita lakukan buat Jazirah al-Mulk ini?
Kita telah berbuat apa yang terbaik sebagaimana kearifan sosok- sosok pendahulu?

Daripada tidak sama sekali, inilah sedikit ide atau gagasan dari Generasi Muda Nuku atau GARDA NUKU untuk mempersembahkan buat Moloku Kie Raha, dengan memberi nama; NUKU World Festival.

Untuk lebih detail, inilah warkatul ikhlas "NUKU World Festival".
Bahwa dalam tahun 2016 ini, GARDA NUKU menggagas satu event penting dan strategis buat daerah, buat Indonesia yang dikemas dengan nama "NUKU World Festival".

Sedikitnya ada 9 agenda. Namun satu agenda yang dianggap sangat penting dan strategis dalam "NUKU World Festival" ini adalah TRAKTAT KIE RAHA. Rapat Garda Nuku pada Jumat sore itu sempat alot mendiskusikan kata "traktat", agar perlu dicari pedanan kata yang lain sepadan. Ada kata "konvensi", "agreement", "deklarasi", "piagam atau charter", dan lain sebagainya.

Kenapa traktat penting? Pada momen ini, Garda Nuku mendesain satu peristiwa penting bagi empat Kesultanan di Moloku Kie Raha (Tidore, Ternate, Jailolo dan Bacan) beserta para pemimpin formal mulai dari Gubernur hingga Bupati/Walikota di wilayah Malut untuk dapat merumuskan bersama masa depan Moloku Kie Raha. Pelibatan juga dari daerah-daerah yang secara historis dan cultural menjadi bagian dari Moloku masa lalu, seperti Raja Ampat, Seram Timur serta Papua dan Papua Barat.
Mereka bikin konsensus serta tekad dalam bentuk poin-poin penting dan strategis baik di tingkat lokal, antara regional dan bahkan demi Indonesia yang besar. Konsensus ini akan dituangkan dalam satu prasasti bersejarah, bahwa mereka telah membuat konsensus yang besar demi masa depan yang gilang gemilang. Setidaknya inilah tekad Garda Nuku sebagai wujud meneruskan spirit Nuku.

Selain traktat, acara puncak dari event NUKU World Festival ini adalah jatuh pada 14 November 2016 (malam), adalah peringatan atas wafatnya Sultan Nuku yang ke-211 tahun atau 'Haul Sultan Nuku. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk ratib rabana atau Taji Besi Akbar yang berpusat di Dhuafa Center Ternate.

Untuk menyempurnakan gagasan NUKU World Festival ini Garda Nuku menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebanyak dua kali dengan pihak kampus, akademisi, sejarawan, budayan serta civil society untuk bersama-sama merumuskan poin-poin penting Persekutuan Historis Moloku Kieraha. Selanjutnya, membumikan gagasan besar ini dengan mengadakan media gathering oleh semua media massa maupun bloggers.

Harapannya, gagasan NUKU World Festival ini menjadi nilai tambah bagi masa depan daerah dan Indonesia yang kita banggakan.

Akhirnya, kami mengutip 1 buah puisi yang ditulis legislator senayan dari Maluku Utara, bang Syaiful Bahri Ruray; ‘Surat Kepada Kaicili Paparangan’.

Beta Kaicili Paparangan
Menjadi daulat Jou Barakati…
Kuasa Papua hingga Seram…
Dan hamparan Pasifik nun jauh…
Dan,
Kitabullah beta junjung tinggi,

Beta tau…
Dua puluh tiga tahun beta mandi keringat
Dan darah para bala…
Diantara canga dan kora-kora
Yang melintasi riak gelombang
Surat yang beta tuliskan
Adalah goresan masnawi hati
Catatan gelisah karena
Angkara nan murka
Yang memporak-porandakan saudara-saudara beta
Di sepanjang Batuchina de Moro hingga Celebes…

Beta, kuasa Hale mayora
Karena beta jua, Nusantara berdiri..
Beta El Mabus Amiruddin…
Karena beta jua, Nusantara tetap ada…

(Puisi bang Ipul)

***

Lalu goresan dari kami, Garda Nuku:

Negeriku...
bak kertas putih nan bersih
namun kini  . . .
nampaknya kertas itu telah usang
karena kau biarkan  begiu saja
sedikitpun kau tak menyentuhnya 'tuk sekedar mengukir prestasi
barang sacuil  . . .

negeriku sayang . . .
negeriku malang
kini kau telah usang . . .

namun tak apa
kau tetap negeri tercinta
tanah kelahiranku
tenanglah . . .
biar kami bantu bersihkan
akan kami kumpulkan kekuatan
tuk meniup debu - debu di atasnya
akan kami carikan segera tinta biru
agar jazirah ini
bangsa ini
mendapatkan tempat
bagai goresan baru...


Demikianlah hidup laksana gerak air di sungai, mengalami pergerakan kearah perubahan. Bahkan, dalam hidup ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan.
Persembahan kami GARDA NUKU untuk negeri tercinta... Moloku Kie Raha, untuk Indonesia.

Akhir kata, semoga kita sekalian berharap Jou Taala memberi ampun atas ketidakmampuan kita yang generasi sekarang memberikan yang terbaik. Semoga ‘barakati’ tak hanya berbatas pada Nuku El Mabus Amiruddin saja.
Baarakallah...

Salam Spirit Nuku!


~ Oktober-November 2016
Alloed Dahlan



Keterangan Foto:
1. Media Gathering dengan semua media massa dan bloggers.
2. Pembacaan dan penandatanganan hasil konsensus persekutuan Moloku Kieraha oleh empat kesultanan dan para kepala daerah.

KOFEA GARDA NUKU : Tanpa Nuku Adakah Indonesia?

Minggu, 7 Agustus 2016, bertempat di halaman eks Kantor Gubernur Provinsi Maluku Utara, di Jl. Pahlawan Revolusi, Ternate, salah satu elemen civil society, GARDA NUKU, menggelar diskusi dengan diberi nama KOFEA ( Konfederasi Idea ), dengan menetapkan tema "Tanpa Nuku Adakah Indonesia?". Tema yang sedikit menggelitik ini dikupas oleh 4 narasumber, yakni SULTAN TIDORE H. Husain Syah, DR. Syaiful Ruray (Anggota DPR RI), DR Syahril Muhammad (Akademisi/Sejarawan), calon Doktor UGM Darsis Humah (Akademisi IAIN Ternate/Pemerhati), dan dipandu oleh M. Sofyan Daud (Penyair/Sastrawan/Budayawan dan Pembina GARDA NUKU), dihadiri oleh sejumlah tokoh intelektual, budayawan, sejarawan, kalangan jurnalis, organisasi lintas kultural, elemen kepemudaan dan kemahasiswaan, yang dimulai pukul 21.30 hingga berakhir 01.00 Wit, tidak ada yang meninggal lokasi diskusi.

Dari berbagai gagasan dalam diskusi KOFEA GARDA NUKU malam itu, saya barangkali merangkul beberapa poin penting bertalian dengan: Nasionalisme dan spirit perjuangan Sultan Nuku Jou Barakati; kebangkitan Maluku Kieraha; hingga masa depan Indonesia.
Berikut adalah poin-poin penting yang dapat saya rangkum :

1) Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Muhammad Amiruddin Syah Kaicil Paparangan Jou Barakati, alias Sultan Nuku. Dillahirkan di Tidore, 1738, tak diketahui tanggal dan bulannya. Dinobatkan sebagai Sultan 13 April 1879. Sultan Nuku wafat dengan damai 4 November 1805 di Soasio, Tidore. Melalui SK Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995, tanggal 7 Agustus 1995, Sultan Nuku dianugerahi Bintang Mahaputra Adi Pradana dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

2) Sultan Nuku adalah sultan terbesar Kerjaan Tidore. Seorang cerdas dan bijaksana, diplomat dan negosiator ulung, memiliki visi dan strategi jitu. Pihak Inggris menyebut Nuku "The Lord of Furtune" (sang raja keberuntungan), sebaliknya pihak Belanda menyebut Nuku sebagai "Prins Rebel" (pangeran pemberontak). Pemikiran dan pendekatan politik Sultan Nuku dalam banyak segi terinspirasi oleh Sultan Tidore besar lainnya yakni Sultan Syaifuddin alias Jou Kota. Sultan yang membawa Tidore berkembang menjadi kesultanan modern dalam aspek pemerintahan, hukum, sosial budaya, ekonomi dan tataniaga.

3) Gerakan perjuangan NUKU dipandang sebagai suatu proto-nasionalisme, yakni suatu bentuk nasionalisme awal. Belajar dari nilai dan substansi perjuangannya, bisa dikatakan NUKU merintis kesadaran kebangsaan. Dimana Protonasionalisme (nasionalisme yang mula-mula, cikal bakal) dalam konteks keindonesian, tetapi nasionalisme sesungguhnya, sejadi bagi sejarah bangsa Tidore. Tentu Tidore dalam arti negara bangsa pada masa itu. Yang kini sengaja atau tidak, sadar atau tidak, telah terciutkan, diciutkan, atau menciutkan diri sekadar sebuah pulau. Bukan lagi sebagai sebuah entitas budaya dan peradaban adiluhung dari Tidore, Gamrange (Weda, Patani, Maba), Seram, Wetubula, Tor, Rajaampat dan Papua daratan sampai Midanao, kepuluan marshal, dan Salomon. Inilah salah satu issu penting bagi GARDA NUKU sebagai penyadaran untuk mengembalikan kesadaran dan kepeduliaan kolektif terhadapnya. Tanpa itu maka yang membedakan Tidore dengan Ternate, Maitara, Failonga, Mare, Hiri, Dodola, dsb, hanyalah status admistratif, demografis, topografis dan segala teknis belaka bukan substansi nilai, identitas.

4) Masih terkait spirit perjuangan Nuku yang memiliki beberapa konsep politik yang ingin diwujudkannya. Konsep politik Sultan Nuku yang pertama adalah Mempersatukan seluruh wilayah Kesultanan Tidore sebagai suatu kedaulatan yang utuh. Kedua adalah memulihkan kembali 4 pilar kekuasaan Kerajaan Maluku. Ketiga, mengupayakan sebuah persekutuan antara ke-4 Kerajaan Maluku. Kelima mengenyahkan kekuasaan dan penjajahan asing dari Maluku, dan terakhir menjaga dan memanfaatkan Sumber Daya Alam di Maluku.

5) Dalam sejarah perjuangannya, sultan dikenal paling gigih dan sukses melawan Belanda (masa periode 1738-1805 M). Selama bertahun-tahun, Nuku berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing. Sekali lagi Nuku tak sekadar berjuang dlm perspektif Tidore, tapi negara bangsa zaman itu. Indonesia : “Semua karena Nuku”. Ya...Sikap konsisten yang anti terhadap kolonial Belanda tersebut membuat pemerintah Republik Indonesia memberi gelar pahlawan nasional kepada Sultan ke-30, yakni Sultan Syaedul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati alias Nuku, yang memerintah 1797-1805 Masehi pula terkenal mengalahkan Belanda secara telak hingga Belanda harus mengakui wilayah Nuku pada Perjanjian Stadbland 24 Juni 1824 . Bagi Soekarno, tanpa ada pengakuan ini, mungkin sekarang Tidore bukanlah Indonesia (Dikutip dari buku karangan Irham Rosyidi, S.H., M.H. dengan judul “Eksplorasi Nilai, Asas, dan Konsep dalam Dinamika Ketatanegaraan Kesultanan Tidore”. Halaman 177-179).

6) A. Malik Ibrahim (Pembina Garda Nuku) menulis bahwa; "Kita adalah bangsa dengan sejarah yang berwarna-warni". Sejarah NUKU adalah heroisme universal___yang wilayah pengaruhnya tak sebatas pulau titik Tidore, tapi meluas menembus batas spasial, etnik dan budaya. Historiografi sejarah Indonesia modern telah mengulas bahwa NUKU dengan kedigyayaan adalah Sultan pemersatu dan bukan boneka kolonial. NUKU jou barakati adalah altar peradaban, bukan imperium perbudakan.

7) Bicara Nasionalisme? Indonesia tidak perlu ragu kepada Nuku. Ia adalah perintis proto-nasionslisme. Seperti dalam diskusi malam itu, The King of Tidore H. Husain Syah menegaskan; "Saya sebagai seorang generasi pewaris Nuku, dalam konteks ideologi perjuangan; bagaimana Nuku mewariskan spirit dan semangat api perjuangan kepada kami. Pantaskah diragukan eksistensi saya sebagai seorang pewaris Nuku dalam konstelasi politik internasional, nasional dan lokal. Saya tetap eksis di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan itu gratis. Saya loyal kepada bangsa ini, saya eksis kepada bangsa ini, tidak untuk mendapat upah...”

8) Bahwa kehidupan sosial Maluku Utara demikian kaya akan persentuhan dengan dunia luar sejak awal sejarah peradabannya. Untuk itulah, adalah aneh jika realitas kontemporer Maluku Utara malah surut kebelakang menjadi masyarakat tertutup atau bahkan xenophobia meminjam istilah bang Syaiful Ruray. Proses akulturasi peradaban telah berlangsung demikian intens, sehingga bahasa Tidore dan Ternate dapat dikategorikan sebagai lingua franca karena juga ditemukan berbagai kata Spanyol dan Portugis, selain Cina dan Belanda.

9) Begitu juga dalam perspektif realitas Politik dan Hukum. Kesultanan Moloku Kieraha dapat dikategorikan sebagai negara demokrasi dengan sistem monarki konstitusional. Tradisi berdemokrasi yang halus dan berbudi pekerti ini seharusnya diajarkan oleh dunia pendidikan kita sebagai kurikulum lokal untuk menjadi kearifan lokal. Kesultanan Moloku Kieraha dengan demikian dapat dikategorikan sebagai negara demokrasi dengan sistem monarki konstitusional. Halmana penting bagi Indonesia di era reformasi sekarang yang masih mencari format yang tepat untuk berdemokrasi secara lebih etis dan tidak terperangkap pada jebakan anarkisme politik yang destruktif.
Konsensus politik tertinggi di Maluku Utara juga sudah dikenal dengan berlangsungnya Moti Agreement (Moti Staten Verbond) pada 1322, dimana Sultan Sidang Arif Malamo (1322-1331) memprakarsai terbentuknya Konfederasi Moti yang menyatukan empat kesultanan (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan) dalam sebuah konfederasi yang dikenal dengan Moloku Kieraha.

10) Point penting lain yang ditemukan dalam diskusi KOFEA Garda Nuku malam itu adalah, strategi perang laut yang dirintis Nuku. Jou Barakati terkenal dengan gerilya lautnya selama 22 tahun lebih melawan Belanda. Sebuah pertempuran yang sangat hebat dan berlangsung lama melebihi perang Napoleon di gelanggang Eropa.

11) Nuku adalah tokoh pejuang universal yang mengokohkan kedaulatan kerajaan-kerajaan Moloku oleh aneksasi imprelisme Belanda. Benar Tidore mencapai puncak keemasannya pasa era Sultan Nuku. Kaicili Nuku terkenal dengan gerilya lautnya selama 22 tahun lebih melawan VOC Belanda. Sebuah pertempuran yang sangat hebat dan berlangsung lama melebihi perang Napoleon di gelanggang Eropa. Nuku juga kemudian berupaya keras merekonstruksi Kerajaan Jailolo dengan mengangkat Muhamad Arif Billa, Sangaji Tahane, yang menjadi pengikut setianya dalam perang dan sempat mencapai posisi sebagai Jogugu Tidore. Namun rekonstruksi itu terus gagal karena ditentang oleh Belanda. Nuku bekerja sama dengan Inggris dan membuat pakta saling menghormati kedaulatan masing-masing.
Yang menarik secara sosial pada periodisasi Nuku ini adalah terjadinya cross cultural movement yang demikian hebat di Maluku Utara, dimana gerakan Nuku ini telah memobilisasi dan menyatukan Gam-Range yang multi etnis, agama bahkan suku Alifuru di Seram hingga Papua, sebagaimana yang disebut Muridan Satrio Wijoyo.
Dengan demikian heterogenitas sosial pada dasarnya telah terjalin demikian erat pada periode Nuku ini.
(Karena nilai dan spirit perjuangan Nuku dgn menghimpun kekuatan multi-etnis itulah ketika saya dipilih menjadi Ketua Umum GARDA NUKU dan kawan Budi Janglaha sebagai Sekertaris Umum GN, kita mencoba menghimpun kawan-kawan Gamrange (Maba-Patani-Weda), Makian-Kayoa, Jailolo, Tobelo-Galela, suku lainnya, masuk kedalam struktur kelembagaan, sekaligus sebagai upaya mengkonsolidasi kaum muda untuk sama-sama memikirkan nasib negeri Moloku Kie Raha ini dalam kanca nasional hingga dalam kepentingan arus globalisasi yang kian deras).



~ 7 Agustus 2016
Alloed Dahlan

Foto: Para narasumber dalam Kofea Garda Nuku

Sekilas GARDA NUKU Periode Kedua

Suba se Tabea..

Kebersamaan tak selalu berbentuk fisik tapi juga perlu kebersamaan maknawi. Artinya, walaupun secara jasmani kita barangkali tak slalu bersama (berpisah), namun rasa kebersamaan dalam jiwa selalu ada dengan selalu menjaga komunikasi sosial yang intensif dan harmonis.

Kebersamaan tidak menafikan/menghilangkan perbedaan, karena perbedaan merupakan fitrah sekaligus penentu bagi kedinamisan, kreatifitas dan keharmonisan manusia.

Filosofi “kebersamaan” mengacu pada “keterbatasan”. Karena manusia mahluk yang terbatas, maka untuk mengatasi keterbatasan harus dilakukan usaha bersama. Dari sisi ini kita mengetahui betapa pentingnya kebersamaan.

***

Alhamdulillah... atas izin Allah serta spirit 'kebersamaan', Generasi Muda Nuku (GARDA NUKU) kembali eksistensinya.
Itu setelah pada 23 Ramadhan 1437 Hijriyah atau bertepatan dengan 28 Juni 2016 Masehi (Selasa malam kemarin), di buku sandar Tobona, kepengurusan Garda Nuku berganti.

Melalui musyawarah Dewan Syuro yang terdiri dari Ketua Ikatan Keluarga Tidore (IKT) Provinsi Maluku Utara yang juga Walikota Ternate Burhan Abdurrahman, Jo Ou Sultan Tidore Husain Sjah, tokoh sesepuh GN; A. Malik Ibrahim, M. Sofyan Daud, Samin Marsaoly, Dahlan Malagapy, serta mantan ketua Nuryadin Rahman (periode pertama 2005), memutuskan memberikan amanah kepada saya sebagai Ketua Umum Garda Nuku dan saudara Budi Janglaha sebagai sekretaris umum. Organisasi yang sedari awal menjadi konseptor sekaligus motor penggerak IKT dalam melakukan program sosial andalannya "Barifola" atau bedah rumah. Kiprah Garda Nuku yang sejak berdiri November 2005 hingga kini berkontribusi terhadap ide/gagasan serta kerja-kerja sosial dan kebudayaan.

Akhirnya, Garda Nuku seperti "Rumah". Rumah ide, rumah kedamaian, rumah penjaga kultur, rumah yang menjunjung nilai luhur, rumah yang nyaman dan ramah dalam relasi sosial, bahkan rumah gerakan dalam mengkonsolidasi gagasan-gagasan perubahan bagi Moloku Kie Raha dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dan, rumah ini tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama kapal layar.

Semoga kedepannya Garda Nuku dapat menjalani kerja-kerja sosial-kebudayaan dengan ikhlas, totalitas dan semangat juang, sebagaimana spirit Nuku. Sebab, di sana kita punya kepentingan bersama. Kepentingan untuk mengabdi kepada sesama. Mari bersama lakukan yang terbaik buat masyarakat, daerah dan negara tercinta ini.

Salam Nuku !!!


~Juli 2016
Alloed Dahlan

Sabtu, 15 April 2017

Merindu Bloggers Tidore Untuk Indonesia

Kawanku... senja mulai luruh di punggung Maitara. Mari bersulang peluk. Sebab dahaga kita adalah kerinduan, yang tak mampu dihilangkan dengan kata-kata.

Percayalah kawan, kelak akan ada jawaban bagi doa-doa yang telah kita wiridkan di bukit Moya malam itu, seperti camar yang bahagia pulang kala senja memanggil.

Kami (Garda Nuku) mencintai kalian seperti senja, dengan keindahannya tanpa durasinya.

***
Kerinduan kami yang tebal ini buat teman-teman bloggers #TidoreUntukIndonesia dan #NgofaTidore.
Selamat jalan kawan... doa kami haturkan; tiba di tanah asal masing-masing dengan sehat wal'afiat, selamat dan sentosa.
Salam rindu !


Alloed Dahlan
Kamis, 15 April 2017
____________
#GardaNuku
#GarasiGenta
#JanglahaPrinting
_____
⬛Lokasi: Pelabuhan Rum, Tidore, dengan latar senja di apit Gunung Maitara dan Ternate.
⬛Phonegrafer: alloed dahlan


Jumat, 17 Maret 2017

Hati-Hati Menuliskan Wallahu A'lam

Bissmillahi..
Salam takjim saudara2ku... bagi yang sering menulis apa saja kerap mengakhiri tulisannya dengan kalimat Wallahu a’lam (artinya: “Dan Allah lebih Tahu atau Yang Maha Tahu/Maha Mengetahui).

Sering ditambah dengan bish-shwabi. menjadi Wallahu a’lam bish-shawabi yang artinya “Dan Allah Mahatahu yang benar/yang sebenarnya”. Shawabi = benar/kebenaran.

Hal itu untuk menunjukkan, Allah Swt-lah yang maha tahu atau lebih tahu segala sesuatu dari kita. Hanya Allah yang Maha Benar dan Pemilik Kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita tuliskan itu relatif, nisbi, karena kita manusia tempat salah dan lupa.

Namun coba perhatikan, banyak yang keliru dalam penulisannya, yaitu dalam penempatan koma di atas (‘).

--- Catatan: sebutan “koma di atas” untuk tanda baca demikian sebenarnya tidak tepat, tapi disebut “tanda petik tunggal” juga tidak tepat karena petik tunggal itu begini ‘…’ dan bukan pula “apostrof” (tanda penyingkat untuk menjukkan penghilangan bagian kata) karena dalam kata itu tidak ada kata yang dihilangkan/disingkat. Kita sepakati saja, namanya “koma di atas” ---.

Penulisan yang benar, jika yang dimaksud; “Dan Allah Maha Tahu” adalah Wallahu a’lam (tanda koma di atas [‘] setelah huruf “a” (alif) atau sebelum huruf “l” (lam). Tapi sangat sering kita jumpai penulisannya begini: Wallahu ‘alam (koma di atas [‘] sebelum huruf “a”).

Jelas, Wallahu a’lam dan Wallahu ‘alam berbeda makna:

1. Wallahu a’lam artinya “Dan Allah Mahatahu/Maha Mengetahui atau Lebih Tahu”.

2. Wallahu ‘alam artinya “Dan Allah itu alam”, bahkan tidak jelas apa arti ‘alam di situ? Kalau ‘alamin atau ‘aalamin, jelas artinya alam, seperti dalam bacaan hamdalah –alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Jadi, kalau yang kita maksud itu “Dan Allah Maha Tahu/Lebih Tahu”, maka penulisan yang benar adalah Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Mari kita bedah. Eh, tunggu dulu… Saya bukan ahli bahasa Arab, cuma tahu sedikit dari hasil bacaan. Yang jago bahasa Arab, mohon koreksinya ya…
A’lam itu asal katanya ‘alima artinya tahu. Dari kata dasar ‘alima itu kemudian terbentuk kata ‘ilman (Isim Mashdar, artinya ilmu/pengetahuan), ‘alimun (fa’il/pelaku, yakni orang yang berilmu), ma’lumun (pemberitahuan, maklumat), dan sebagainya, termasuk a’lamu/a’lam (lebih tahu). (Bandingkan, misalnya, dengan kata fadhala [utama] – afdhalu [lebih utama]; karama [mulia] – akrama [lebih mulia]; hasan [baik] – ahsan [lebih baik]).

Tanda petik tunggal atau koma di atas (‘) dalam a’lam itu transliterasi bahasa Indonesia untuk huruf ‘ain dalam bahasa Arab (seperti Jum’ah, Ka’bah, Bid’ah, Ma’ruf, dan sebagainya). Kata a’lam artinya “lebih tahu”. Jadi, kian jelas ‘kan, penulisan yang benar: Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Tentu, kesalahan penulisan itu tidak disengaja, salah kaprah saja alias kesalahan yang sering dilakukan, secara sadar atau tidak sadar, merasa benar –padahal salah—karena tidak ada yang mengoreksi. Saya yakin, maksudnya Wallahu a’lam, “Dan Allah Maha Tahu”.

Wasalam. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Barakallah... semoga bermanfaat. (GN-01)
*) Disarikan dari berbagai sumber.


_________________
JUM'AT -- Penghulu segala hari.
Alloed Dahlan / GN-01
Goto - Tidore, 17 Maret 2017

                      Alloed Dahlan