This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 12 Maret 2017

Memoar Jalan Revolusi (2)

Safia Marsaoly, disapa Sofia, HMI-wati yang supel dan enerjik. Dia satu-satunya perempuan yang berani menjadi relawan Aksi Mogok Makan dalam perjuangan pembentukan provinsi Maluku Utara, antara Februari atau Maret 1999.

Persiapan intens lebih sebulan. Edaran meminta partisipasi relawan jauh-jauh hari telah disampaikan kepada pimpinan OKP dan BEM di Kota Ternate, tetapi sampai H-2 tak ada satupun yang mendaftar.

Evaluasi pada H-1 diputuskan perlu menggunakan wibawa atau otoritas, dan saya dipercayakan menjadi eksekutor menunjuk pasukan terpilih juga terhandal sebagai relawan.

Hari itu juga saya meminta kawan-kawan mengumpulkan 10 orang yang nama-namanya sudah saya list. Malamnya, ba'da Isya saya briefing dengan mereka. Semua siap dan mestinya menyiapkan diri untuk aksi Mogok Makan yang batas waktunya belum ditentukan.

Besok paginya aksi mogok makan diawali dengan orasi, pembacaan pernyataan sikap, tuntutan dan ultimatum para relawan aksi mogok makan.
Di penghujung aksi, sekitar pukul 10 pagi, hujan deras mengguyur Ternate. Massa aksi berangsunr bubar, termasuk para senior, koordinator dan penggerak aksi. Tersisa saya menemani para relawan mogok makan.

Hujan deras seharian, kami tak geming, tetap duduk di trotoar persis di depan papan nama Kantor Bupati Maluku (eks kantor gubernur). Tak ada tenda atau terpal untuk bernaung. Anak-anak yang kedinginan mesti berbaring di atas aspal. Ada pula yang mencebur ke laut menghangatkan tubuhnya. Kami yang merokok mesti membeli kantong keresek besar, menudungi kepala sampai leher dan merokok.

Bada Dzuhur saya mengutus kawan-kawan menemui Sekretaris Darrah, meminta bantuan tenda atau terpal 6x4 supaya anak-anak bisa bernaung. Tapi tenda atau terpal yang dikanjikan tak kunjung ada.

Hujan mereda saat corong-corong masjid mulai mengaji. Tenda biru 4x3 meter dan tali rafiah sekepalan tangan baru diantar beberapa PNS, dan kami memasangnya persis di depan papan nama kantor itu.

Setengah jam kemudian, kawan-kawan lain bermunculan, Zainuddin Abdullah, Caken, Anwar Ways (alm), Hasyim Abdulkarim, Djufri Yakuba dan beberapa lainnya. Kami breifing sebentar, bagi tugas mencari tenda, terpal, tikar, dsb.

Dua unit tenda 4x4 dari Tukimin tiba di lokasi ba"da Maghrib dan langsung diset. Caken dan tim kecilnya dengan pickup cary menurunkan satu ball tikar plastik dan beberapa terpal. Terpal digelar paling bawah, lalu tikar dua-tiga lapis menjadi alas sekaligus tempat tidur para relawan. Beberapa lembar tikar disambungkan dan dililit mengelilingi tenda, menghalau angin dan hujan yang tempias.
Hari ke-2 aksi, kondisi beberapa relawan menurun. Beberapa dokter dari RSUD Chasan Boesoirie, IDI dan beberapa konsorsium dokter swasta, mulai membuka tenda, ikut nengawasi intensif kondisi relawan aksi.

Para dokter memberi pertimbangan medis agar beberapa relawan mesti diinfus, sebab lebih dari 48 jam mereka tidak makan apapun. Dokter lain menyarankan sebaiknya relawan yang mulai drop dibawa ke Rumah Sakit. Tetapi para relawan menolak. "Andai mesti diinfus, infus saja di sini," kata Sofia dan kawan-kawan.

Sejam dua jam kemudian tiga botol infus dengan slangnyan berjuntaian di bawah tenda berpenerangan minim. Tapi lagu-lagu kritis Iwan Fals tak henti terdengar dari sound sistem NJS (Narjan Jembatan Satu) yang dipinjamkan, gratis.
Sofia, Nyong Alkatiri, menyusul Irwanto Maneke diinfus. Sungguh tak ada yang bisa mengalahkan semangat dan tekad mereka.

Ah, memoar singkat ini saya tulis dengan bangga dan haru yang teramat. Di antara para relawan itu, ada sedang menjalani Ujian Semester. Satu jam sebelum jadwal mereka di antar ke kampus untuk ujian, setelahnya kembali lagi ke lokasi aksi.
Sofia,dia tumbuh dalam lingkungan aktifisme-kreatif Komunitas Seni Hitam Putih, Himpunan Mahasiswa Halmahera Tengah dan  Himpunan Pelajar Mahasiswa Nuku (Hipmin), binaan saya. Dia beberapa kali main teater yang saya tulis dan sutradarai, ikut vocal group bersama Unang dan kawan-kawan pada pergelaran seni yang kami  helat di Tidore.

Kini Sofia, seperti foto profilnya yang diupload di sini, mengenakan cadar, sehingga tak mudah dikenali. Sehari-harinya dia berprofesi sebagai guru di Kota Tidore Kepulauan.
(garasigenta_memoarjalanrevolusi)


Ditulis M.Sofyan Daud
Minggu 12 Maret 2017 di medsos FB.

                          Safia Marsaoly

Memoar Jalan Revolusi (1)

Minggu, 12 Februari, seusai blogger gathering dan launching lomba menulis blog "Tidore untuk Indonesia" di Fola Barakati, Cibubur, saya sengaja mengajak Unang Bahrudin alias Oenank Toadore foto bersama.

Selain saudara dan kawan dekatnya, tak banyak yang tahu, apalagi gubernur dan sebagian besar elit birokrat provinsi Maluku Utara tentu lebih tak tahu lagi, bahwa laki-laki satu ini, bersama belasan kawan, antara lain; Safia Marsaoli, Idrus Maneke, Abdul Kadir Din, Ibnu Khaldun Yahya, Nyong Alkatiri, Irwanto Maneke, Hizbullah Hasan (alm), Ibrahim Abdurahim (alm), Asnawi (alm), mereka yang berani ambil resiko menjadi relawan Aksi Mogok Makan awal 1999.

Aksi itu bagaian dari serangkaian aksi Apel Akbar masyarakat Maluku Utara menuntut percepatan pemekaran atau pembentukan Provinsi Maluku Utara.

Tujuannya mendesak agar rancangan UU  pembentukan provinsi Maluku Utara harus diajukan ke DPR RI dan dibahas sebelum Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999. Tak boleh setelah Pemilu, sebab dikuatirkan Pemilu multipartai pertama di era reformasi itu bisa saja mengakibatkan perubahan konstelasi politik nasional yang kontraproduktif. ~(garasigenta_memoar).


Ditulis M.Sofyan Daud
Minggu 12 Maret 2017 di medsos FB

M.Sofyan Daud dan Unang Bahrudin (kemeja batik). __ foto: Mito Vevec

Jumat, 10 Maret 2017

"Air Mata Bunda"(Sebuah Percakapan Imajiner)

Suatu ketika, anak laki-laki saya Abu Dzar Al-Ghiffari bertanya kepada ibunya, Bunda, mengapa menangis? Bundanya menjawab, Sebab bunda adalah perempuan, nak. Saya tak mengerti bunda, kata Aby sapaannya. Bundanya hanya tersenyum dan memeluknya erat. Aby, kau memang tak akan mengerti…

Kemudian Aby bertanya kepada ayahnya. Ayah, mengapa bunda menangis? Bundamu menangis tanpa sebab yang jelas, sang ayah menjawab. Semua perempuan memang sering menangis tanpa alasan.

Si anak membesar menjadi remaja, dan dia tetap terus bertanya-tanya, mengapa perempuan menangis? Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, Ya Allah, mengapa perempuan mudah menangis? Dalam mimpinya ia merasa seolah mendengar jawabannya:

Saat Ku ciptakan wanita. Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali menerima cerca dari si bayi itu apabila ia telah membesar.

Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Ku berikan kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak-anak yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai isterinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata, agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat ia gunakan bila masa pun ia inginkan. Ini bukan kelemahan bagi wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan. [GN-01]

***
Catatan sederhana ini saya persembahkan buat istri tercinta Anthy Giffari yang pada 11 Maret 2017 hari ini menapaki usianya ke-37 tahun.
Perempuan tangguh yang berani bertaruh apa saja untuk mendamipingi saya. Andai ada kata yang lebih indah dari cinta, dan lebih berat dari terima kasih, tentu saya akan mempersembahkan untuknya.
Yaumul milad sayang... barakallah fii umrik.


Foto: Bunda dan Abu Dzar Al-Ghiffari

Rabu, 08 Maret 2017

"Ubah Sejarah, Ubah Taktik"

SEJARAH menunjukkan bahwa belum pernah ada satupun tim yang lolos ke babak berikutnya di fase gugur Liga Champions setelah kalah 0-4 di leg pertama.

Barcelona mengalami kekalahan telak 0-4 dari Paris Saint-Germain (PSG) ketika melawat ke Paris pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions. Tidak heran, sebelum pertemuan kedua dini hari tadi (Kamis, 9 Maret 2017), kans Barcelona disinyalir telah habis dan akan kesulitan untuk mengejar defisit gol yang cukup besar itu.
Kemenangan dengan skor 'Manita' (istilah Spanyol untuk menang lima gol), menjadi harga mati yang harus ditebus oleh Barcelona pada pertandingan ini.

Namun tim Catalan bikin sejarah. Lionel Messi dkk. mengubah hal yang tadinya dipandang berat oleh lawan atau bahkan sebagian besar orang/fans bola, ternyata enteng saja. Barca memberi pelajaran buat PSG cara bermain sepakbola atraktif dan efektif.
Kemenangan 6-1 (agregat 6-5) begitu dramatis. Dramatis karena sampai memasuki injury time (menit 86) skor masih 3-1. Artinya Barca masih butuh 3 gol lagi untuk memastikan lolos. Spirit kolektivitas, skil, dan optimisme juang yang tinggi, adalah nilai-nilai yang patut kita tiru dari dari para pemain Barcelona.

Di sisi strategi bermain, saya menaruh hormat buat sang entrenador Luis Enrique. Ya, saya mengamati Enrique sepertinya mengubah formasi dan taktik. Formasi andalan Barca selama ini 4-3-3, diubah dengan menerapkan dua formasi sekaligus.

Perubahan formasi menjadi 3-4-3 ketika menyerang dan 4-4-2 ketika bertahan membuat Barcelona dapat dengan mudah menciptakan banyak orang di daerah permainannya ketika bertahan.

Saya dan mungkin anda tak bisa bayangkan seninya Barcelona meracik taktik. Dengan menggunakan formasi dan ubah taktik seperti itu, Barcelona berubah menjadi kesebelasan yang mematikan saat menyerang dan kokoh saat bertahan, bukan ?? Hehe..

Cukup! Tulisan ini sampai di sini saja. Karena memang sudah lama saya cuti dari jurnalis olahraga. Hehe... Lagian saya masih ingin merayakan kemenangan, hati saya masih meluap girang, bernyanyi gembira sambil menikmati suguhan Kopi Dabe sentuhan tangan tercinta Anthy Giffari.
Bahagia bercampur senang sekali pagi ini...

Visca Barca...
Enhorabona Messi...
______
Alloed Dahlan
GN-01
9 Maret 2017
    Alloed Dahlan & Abu Dzar Al-Ghiffari

Jumat, 03 Maret 2017

MAAFKAN AKU TUHAN(Kontemplasi di malam Jum'at)

Aku melihat detik-detik kehidupan lambat laun habis,
namun keinginan-keinginanku masih belum terpenuhi.
Suatu perjalanan panjang terbentang dihadapanku,
sedangkan aku tiada bekal untuk jalan itu...

Aku manjakan tubuhku dengan pakaian-pakaian halus dan mewah,
sedikit berpikir bahwa itu akan membusuk dan hancur dalam kubur.

Aku bayangkan tubuhku remuk menjadi debu dalam lubang kubur,
di bawah gundukan tanah.
Keindahan tubuhku akan berangsur-angsur hilang,
sedikit demi sedikit berkurang hingga tinggallah kerangka,
tanpa kulit dan daging.

Aku menentang Tuhanku,
melanggar perintah-perintah-Nya terang terangan,
sementara Ia mengawasiku setiap saat. Tanpa luput sedikitpun.

Ah! Aku berdosa secara rahasia,
tidak pernah orang lain mengetahui dosa-dosaku yang mengerikan.
Tetapi esok, rahasia dosa-dosaku ditampakan dan dipertunjukan kepada Tuhanku...

Ah! Aku berdosa terhadap-Nya,
walaupun hati merasa takut,
namun aku sangat mempercayai ampunan-Nya yang tak terbatas.
Aku berdosa dan tak tahu malu,
dengan berani bergantung kepada ampunan-Nya yang tak terbatas.

Tuhan, ampunilah aku... hanya Engkaulah aku bergantung.
Karena Engkau punya seluruh kekuatan.


⬛Alloed Dahlan
Tomalou-Tidore, 18 Februari 2010.

                              Alloed Dahlan

Rabu, 18 Januari 2017

“Sultan Tidore, Morotai dan Jokowi.”(Gerbang Indonesia Menuju Pasifik)

Oleh Syaiful Bahri Ruray

Begitu cepatnya kekuasaan meresponi surat Sultan Tidore kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, tentang investasi di Morotai, sungguh melegakan satu sisi. Walaupun banyak dimensi harus dilihat sebagai hal yang komprehensif dalam pengembangan sebuah kawasan. Banyak teori pembangunan bisa diajukan, juga sebanyak kegagalan yang dihadapi dalam pembangunan yang telah dibahas para akademisi dunia.

Morotai memang menjadi topik pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Jepang Sinzo Abe di Istana Bogor. Setelah sebelumnya jagad politik dihebohkan dengan ijin pemberian nama pulau-pulau Indonesia yang diserahkan ke pihak asing untuk dikembangkan. Menjadi perdebatan karena dari sisi kedaulatan kebijakan tersebut seperti tidak berbasis pada UNCLOS,1982 sebagai rujukan hukum internasional yang dianut PBB. Padahal konvensi hukum laut internasional di  Montegua Bay, Jamaica pada 1982 tersebut, substantifnya sangat dipengaruhi oleh kontribusi Indonesia, khususnya pada pasal-pasal laut territorial. Karena Indonesia telah melakukan tindakan unilateral dengan Deklarasi Djuanda, 1957 yang membatalkan regulasi kolonial Belanda ‘Teritorial Zee en Maritime Kringen Ordonatie’ 1939 tsb yang hanya menetapkan 3 mil laut territorial. Perjuangan Indonesia tentang konsep ‘archipelagic state’ diakui dunia. Kita juga seakan lupa akan kasus sebelumnya, ketika Amerika Serikat dan Belanda memperebutkan ‘Island of Palmas’ yang sekarang dikenal dengan nama Marore di Sulawesi Utara. Hakim Max Huber (Swedia) memutuskan pulau ini menjadi milik Hindia Belanda karena memenuhi syarat doktrin okupasi yang juga dengan ketentuan yang sama, Mahkamah Internasional di Den Haag memenangkan kepemilikan Malaysia atas Sipadan dan Ligitan. Dan paling anyar adalah klaim RRC atas Natuna dan perairan sekitarnya pada 2015 yang menghebohkan tersebut. Bahwa tanpa memberi perhatian serius pada wilayah-wilayah pinggiran, Indonesia akan kehilangan kedaulatannya perlahan-lahan entah atas nama investasi atau apapun, terutama dalam abad perang asimetrik (proxy war) dewasa ini. Perang jenis baru berbasis intelijen sebagai komponen utamanya dengan berbasis kapital dan teknologi untuk menguasai sebuah wilayah sasaran, dengan tanpa melepaskan satupun tembakan senjata konvensional.

Bahwa globalisasi dunia kini tengah bergeser dari kawasan Atlantik ke Asia-Pasifik, dengan melihat trend aktor-aktor Asia-Pasifik telah disampaikan cendikiawan seperti Kishore Mahbubani maupun Immmanuel Hsu.  Indonesia sebagai negara ‘Pacific Rim’ dimana Natuna, Morotai dan Papua adalah kawasan yang secara geografis berhadapan dengan Pasifik sebagai episentrum baru ini. Bahkan banyak ahli geostrategik menyatakan bahwa Pasifik akan menjadi ajang konflik global masa depan karena perebutan jalur transportasi laut, mineral dan sumber daya alam lainnya. Kasus ‘Spratley atau Pulau Senkaku’ di Laut China Selatan adalah salah satu trigernya karena klaim tumpang tindih lima negara kawasan. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya, pada 1938, seorang anak desa Tondano, Sam Ratulangi, telah menulis tentang percaturan di Pasifik (Indonesia di Pasifik). Nah, dalam konteks seperti itulah mungkin mendasari perenungan seorang Sultan Tidore, Husain Syah, menyurati Presiden sebuah negara rim pasifik pemilik pulau terbesar di dunia ini, sesaat setelah pembicaraan dengan PM Jepang.

Walaupun kegelisahan dan tanya, menurut saya lebih pada fungsi sultan sebagai kolano kawasan Moloku Kieraha, halmana merupakan kewajiban kultural sultan sebagai simbol kultural pada wilayah ini. Surat ini demikan cepat menjadi viral hingga istana dan senayan. Padahal surat awak senayan, khususnya kepada kekuasaan lokal Maluku Utara, bahkan tak tergubris dan hilang bagai ditelan deburan gelombang selat Maitara. Saya jadi teringat statement Prof.Martani Husain, seorang ahli marketing perikanan, bahwa Morotai ini tidak bisa dinyanyikan seorang diri, harus penyanyi ‘koor.’ Surat dari senayan tersebut sesungguhnya adalah respon atas rencana Bappenas mengunjungi Morotai untuk perencanaan 6 KEK yang telah diumukan Menko Ekuin Darmin Nasution dimana Morotai adalah salah satunya. Bua dari pertemuan di Istana Wapres pada Mei 2016 lalu.

Bahwa tanpa kesiapan lokal tentu saja perspektif pengembangan dari pinggiran, sebagaimana yang sering didengungkan Jokowi, bagaikan penyanyi tunggal belaka. Apalagi memberi nama asing. Namun saja Menteri Perikanan dan Kelautan ternyata membantahnya karena DPR RI juga keberatan atas usulan pemerintah tersebut. Bahwa Sultan memposisikan diri sebagai kolano, dimana keberpihakannya terhadap masyarakat lokal Morotai, sungguh sangat proporsional. Karena membangun Morotai, identik dengan mempersiapkan gerbang Indonesia menuju episentrum baru dunia di Pasifik. Tanpa keterlibatan masyarakat lokal, sesungguhnya kita hanya akan menjadi penonton yang pasif dan diam sementara pihak asing mengeksploitasi sumber daya alam atas seijin negara dengan mengatasnamakan pembangunan. Lalu, timbul pertanyaan, untuk siapakah pembangunan dan kekayaan alam kita ? Saya teringat pada 2011, mendampingi Jusuf Wanandi mengelilingi pulau-pulau di Morotai, Jusuf Wanandi demikian terkesima dengan pusat penangkaran ikan kerapu, budi daya mutiara dan rumput laut serta keindahan pulau-pula kecil yang eksotis…’ini harus dijaga jangan sampai jatuh kepihak asing’ demikian ungkap Jusuf Wanandi. Sayangnya, republik ini lebih banyak dihuni oleh kekuasaan dan rakyat yang ‘ahistoris’, bangsa pelupa karena mengidap amnesia sejarah. Lebih banyak senang ‘hoax’.

Dalam konteks itulah, surat Jou Kolano Tidore, bagaikan petir yang menyambar disiang bolong, untuk mengingatkan. Bahwa pembangunan itu bukanlah memposisikan rakyat lokal menjadi periferal. Morotai yang eksotis, penuh nilai sejarah, jelas sangat menjanjikan. Morotai adalah gerbang Indonesia di Pasifik. Alangkah konyol jika rumah besar NKRI, sebagaimana istilah Sultan Tidore, malah gerbangnya dikuasakan kepada pihak asing. Saya, yang mengalami masa kecil pada butiran pasir putih Morotai. Kakek saya Sangaji Wayabula yang pada 1942 menyaksikan pendudukan Jepang pada Morotai, dan pada 1944 turut menyaksikan pendaratan Douglas MacArthur di Tanjung Dehegila Morotai. Bahwa Morotai bukanlah sepotong negeri tak bertuan.

Bahwa ‘warkatul ikhlas’ Jou Kolano Tidore, adalah tindakan yang benar berbasis keikhlasan nurani seorang anak negeri. Beliau sekedar meneruskan tradisi Kaicili Paparangan Jou Barakati. Agar negara ini tidak menjadi negara gagal, ketika elite di pusat kekuasaan semakin terjebak pada perang politik identitas tak berujung pangkal akhir-akhir ini. Halmana dapat menggerus keindonesiaan kita, karena kita asyik bertikai sementara SDA diekploitasi asing didepan mata kita. Surat Sultan adalah sebuah upaya merajut keindonesiaan kita.


Pojok Sunyi Kalibata.
18 Januari 2017.
Penulis adalah Cucu Hoofd District van Wayabula.
_____________________
Sekadar membagikan 'Percik Pemikiran' bang Syaiful Ruray.
Makasi kanda atas tulisan yang bernas ini.


Pict: Salah satu pesawat sisa Perang Dunia II di perairan laut Morotai.

Senin, 02 Januari 2017

AMANAT

Amanat. Satu kata yang terdengar sepeleh dalam ucapan tapi beresiko tinggi. Terlebih bila disalahgunakan. Amanat akar katanya dari "amana", percaya. Jadi amanat ini berkaitan dengan kepercayaan, yakni sesuatu yang diberikan kepada seseorang untuk ditunaikan sebagaimana mestinya.

Kaitan dengan amanat, sahabat Khalid bin Walid setelah masuk Islam dikenal sebagai panglima perang yang ditakuti lawan. Beliau bahkan dijuluki Rasulullah sebagai "Syaifullah" (Pedang Allah). Perluasan Islam hingga ke Mesir, Irak dan Syam di masa Khalifah Umar bin Khattab tidak terlepas dari kiprah dan kegagahan Khalid. Tetapi dalam peristiwa penaklukan Syam, Khalid tiba-tiba dicopot Khalifah Umar dari jabatannya sebagai panglima perang.
Apa sikap Khalid? Dia dengan ikhlas menerimanya, tanpa pembangkangan. Khalid bahkan berkata, "Aku berperang bukan karena Umar, tetapi karena Allah". Inilah mutiara akhlaq dalam diri seorang Khalid yang menjadi teladan dalam menunaikan amanat.

Ada juga kejadian lain. Dalam peristiwa Perang Uhud dimana umat Islam mengalami kekalahan. Para pasukan panah tidak taat perintah, lantas turun dan sebagian berebut harta rampasan perang atau ghanimah. Umat Islam dipukul mundur dan kalah. Banyak pejuang Islam terbunuh, seperti Hamzah bin Abi Thalib paman Nabi. Rasulullah pun sempat terluka. Nabi malah sempat dikabarkan wafat, yang menimbulkan kepanikan pasukan umat Islam yang masih tersisa. Namun Rasulullah segera melakukan konsolidasi pasukan yang tersisa agar tidak dipukul kembali oleh musuh. Rasulullah mengambil pedang lalu diangkat sambil berseru membangkitkan semangat. Siapa yang berani mengambil pedang ini? Semua saling berebut. Rasul kembali bertanya, siapa yang berani mengambil pedang ini dengan tanggungjawab?
Akhirnya seorang sahabat, Abu Dujanah, mengambilnya dan lari ke tengah- tengah musuh, yang diikuti pasukan muslim yang tersisa. Terjadilah pertempuran kembali, yang kemudian pasukan musuh menarik diri, dan kaum muslimin terhindar dari kekalahan total. Abu Dujanah pun gugur di medan Uhud menjadi syahid bersama Hamzah bin Abi Thalib dan para syuhada lainnya.
Peristiwa Khalid dan Perang Uhud itu mengisyaratkan betapa sebuah tugas atau amanah harus diterima dan ditunaikan dengan penuh keikhlasan dan tanggungjawab yang tinggi. Bukan sekadar menyatakan sanggup dengan amanah. Amanah bukan dikejar, apalagi diminta-minta dan diperebutkan dengan cara-cara yang penuh nafsu ambisi. Ambisilah yang membuat amanat tidak tertunaikan, bahkan terkhianati karena yang dikejar ternyata hal-hal yang bersifat duniawi.

Maka, jangan anggap remeh amanat. Sungguh mahal amanat itu. Mahal dalam arti tidak sembarang orang memperoleh amanat dan tidak banyak yang mampu menunaikannya dengan baik. Karena itu Rasulullah pernah menolah permintaan Abu Dzar Al-Ghiffari atas jabatan tertentu, karena beliau memandang sahabat yang dikenal sangat zuhud itu dipandang tidak tepat untuk memangku jabatan umat. Kisah ini mengandung pesan, jangan sekali-kali meminta atau mengejar jabatan yang menyangkut amanat keumatan atau apapun, karena betapa berat amanat itu. Sebaliknya, jangan gampang memberikan amanat kepada seseorang yang dimungkinkan tidak akan mampu menunaikannya dengan penuh tanggungjawab.
Di negeri ini, nilai-nilai luhur agama seperti amanah, kejujuran dan kebaikan harus semakin ditaburkan dalam keteladanan kata sejalan dengan tindakan. Tidak sedikit petinggi negeri yang berjanji menunaikan amanat rakyat, tapi setelah terpilih menjadi presiden, anggota legislatif, gubernur, bupati/walikota, atau diberi kepercayaan jadi menteri, hakim, jaksa, camat, lurah/kades, kepala instansi (kepala SKPD, kabag, kabid, kasi, dan jabatan sekecil apapun) kemudian lalai dan ingkar janji. Kalaupun menunaikan mandat, sebatas formalitas dan rutinitas belaka. Hal-hal yang dibuat hanya remeh temeh berorientasi mencari popularitas, prestise, bukan hal yang substantif. Amanat atau mandat gampang diikrarkan dan disanggupi, namun tidak mudah ditepati dan diwujudkan dengan bukti. Padahal sekali amanat itu diabaikan atau dikhianati maka kehancuranlah yang akan terjadi. Apalagi jika amanat yang diabaikan atau disia-siakan itu menyangkut jabatan kepemimpinan umat atau publik.

Menunaikan amanat itu memerlukan jiwa ikhlas. Bukan ambisi dan kekuasaan yang harus dikejar. Bila amanat sudah diterima atas dasar keikhlasan, maka yang berikutnya ialah melaksanakan amanat itu dengan sebaiknya penuh rasa tanggungjawab. Di situlah pentingnya komitmen dan pengkhidmatan yang tulus dan serius sekaligus optimal. Di sinilah pentingnya memahami esensi amanat. Amanat berupa jabatan itu bukan kesenangan dan barang yang harus diraih, sebab ia adalah beban yang akan diminta pertanggungjawaban.

Jadi, bersikaplah wajar. Jika diberi amanat, tunaikanlah, itupun manakalah merasa mampu. Apabila merasa tidak mampu maka terimalah amanat lain yang dirasa lebih tepat dan mampu. Jangan serakah. Sebab sekali mengejarnya, apalagi dengan segala cara, maka akan membawa pada keburukan, bahkan kehilangan berkah dari Allah.

Akhirnya, bagi saya "AMANAT" itu sangat luhur, mulia dan berat. Kalau ada orang yang mengejar dan mengusahakan diri agar memperoleh amanat, maka perlu bertanya pada diri sendiri. Untuk apa mengejarnya? Jangan-jangan salah niat, salah jalan.
Wallahu'Alam...
Barakallah.
_____________
Alloed Dahlan
3 Januari 2016
Ilustrasi: Diambil sumpah jabatan.